Penghasilan dan Rejeki

03 Juli 2008

oleh Muhammad Rizqon

Mul, pria berusia sekitar separuh baya tetangga saya, adalah seorang buruh harian lepas. Kadang orang mengatakannya sebagai kerja serabutan, apa saja dikerjakan. Memperbaiki rumah, kerja bangunan, bongkar muat barang, memperbaiki peralatan rumah tangga, menjaga rumah yang sedang ditinggal penghuninya, dan lain-lain. Karena sifatnya yang lepas (freelance) maka tidak setiap hari ia bisa bekerja. Ada kalanya libur atau menganggur, tergantung dari ada tidaknya majikan yang membutuhkan tenaganya. Imbasnya, penghasilan yang diperolehnya pun menjadi tidak menentu dan sulit diprediksi besarannya.

Suatu ketika, ia mengalami kekosongan pekerjaan. Satu-dua minggu ia masih bisa bersabar menunggu. Namun ketika pekerjaan yang diharap-harap tidak kunjung datang, ia mulai resah. Sebenarnya bukan resah karena khawatir Allah tidak akan memberikan rezeki kepadanya, ia resah karena pasti isterinya akan mengomel dan mewanti-wanti dirinya agar lebih agresif dan responsif mencari pekerjaan baru, jangan sekedar menunggu dan pasrah tanpa upaya maksimal. Padahal menurutnya, ia sudah berupaya semampunya.

Ketika ia datang ke rumah, ia berinisiatif merapikan barang-barang yang ada di gudang, atau membenahi sesuatu atau melakukan pekerjaan apa saja yang ia bisa. Meski ia tidak meminta upah, dengan gelagatnya itu, saya menyadari bahwa pastilah ia sedang terdesak dengan kebutuhan akan uang atau posisinya sedang tersudut di depan isterinya. Maka kami pun memberikan uang ala kadarnya. Terkadang ia terpaksa meminjam uang, yang mana ia akan melunasinya dengan pekerjaan di kemudian hari.

Demikianlah kondisi ini berjalan silih berganti. Manakala isterinya mengomel, ia pun tergerak untuk mencari terobosan-terobosan baru. Seringkali, datangnya pintu rezeki itu berasal dari isterinya. Dari kerja ngurut, order membuat makanan atau kue, order mendistribusikan kupon zakat atau daging korban, atau jasa lain yang bisa diberikannya. Namun tragisnya sang isteri menganggap bahwa semua itu adalah hasil upaya dirinya dan tidak ada sangkut paut dengan upaya dari suami.

Karena pemahaman seperti itulah yang sering memicu terjadinya percekcokan di antara mereka hingga kini. Isteri menuduh suaminya sebagai pemalas, sementara suami tidak merasakannya demikian.

***

Nafkah adalah masalah yang sering memicu keretakan rumah tangga, entah itu masalah nafkah dhohir (uang belanja) atau nafkah bathin. Masalah timbul manakala seorang suami kurang dalam memberikan uang belanja kepada isterinya atau seorang isteri kurang dalam memberikan “service” kepada suaminya.

Masalah akan menjadi lebih kompleks jika sang suami yang “belum mampu” memberikan nafkah yang cukup kepada sang isteri itu, tidak mampu pula memberikan kepuasan bathin kepadanya. Atau seorang isteri yang “belum mampu” memberikan kepuasan bathin kepada suaminya, tidak mampu pula menjaga perasaan suami dengan sikap-sikap yang menyenangkan (akhlak al-karimah) yang bisa menghibur dirinya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS 2: 286). Artinya, masalah kehidupan yang bisa memicu ketidakharmonisan rumah tangga itu sebenarnya bisa dicarikan solusinya. Solusi itu sangat bergantung pada pemahaman pasangan akan esensi kehidupan rumah tangga yang seharusnya dibangun di atas landasan ibadah dan pemahaman pasangan akan esensi penghasilan dan rezeki yang menjadi motor kehidupan keluarga.

Rumah tangga yang ditegakkan atas dasar ibadah, maka aktivitas yang terkandung di dalamnya adalah aktivitas kerjasama dalam membangun ketaatan kepada Allah SWT. Berkait dengan ini, sangat menarik jika ungkapan yang dilontarkan oleh Ustadz Hasan Al-Bana disimak sebagai bahan pelajaran. Ia mengatakan bahwa Kehidupan rumah tangga adalah kehidupan “kerja” yang diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban-kewajiban. Kehidupan rumah tangga dilandasi oleh bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong menolong dalam memikul beban kehidupan.

Sedangkan pemahaman pasangan yang cukup atas esensi penghasilan dan rezeki, akan menjadikan mereka merasa cukup (qonaah) dengan rezeki yang diperolehnya dan memandang bahwa penghasilan suami boleh jadi adalah rezeki sang isteri atau sebaliknya. Besar atau kecilnya rezeki yang diperoleh bukanlah menjadi tujuan. Yang terpenting adalah bagaimana mereka mengupayakan secara maksimal rezeki yang halal dan bertawakkal sepenuhnya kepada Allah atas rezeki yang diperolehnya. Sikap inilah yang bisa melahirkan keberkahan dalam kehidupan rumah tangga dan kemudahan dalam mengurai benang masalah yang muncul ke permukaan.

Dalam situasi krisis seperti sekarang ini, masalah keuangan rumah tangga sering menjadi pemicu pertikaian (pergesekan) antara suami dan isteri. Tidak bisa dipungkiri, yang sering panik dalam menghadapi masalah ini adalah sang isteri. Bagaimana tidak panik, di depan mata terbayang beberapa pos belanja yang harus dipenuhi yang masih belum jelas sumber pemenuhannya. Sebagai contoh, anak-anak yang akan memasuki masa sekolah dan memerlukan uang yang lumayan besar, kebutuhan
untuk aneka cicilan, belanja bulanan, asupan bergizi bagi bayi, barang-barang elektronik, transportasi, komunikasi, dan lain-lain.

Keluarga yang tidak memahami esensi penghasilan dan rezeki, dalam situasi seperti itu akan mudah terjerembab dalam situasi kepanikan dan keputusasaan. Fenomena orang bekerja membanting tulang hanya mendapatkan penghasilan yang minimal, sementara ada orang yang bekerja santai mendapatkan hasil yang cukup besar, jika dilihat dari kacamata yang salah, maka akan menghilangkan rasa syukur akan nikmat penghasilan yang Allah berikan dan hanya akan melahirkan rasa gundah di dalam jiwa.

Hendaknya disadari bahwa penghasilan itu tidaklah sama dengan rezeki. Orang yang mendapat penghasilan besar belum tentu besar pula rezekinya. Bisa jadi rezeki itu pada akhirnya akan jatuh ke tangan orang lain. Namun orang yang mendapat penghasilan kecil belum tentu kecil pula rezekinya. Bisa jadi rezeki itu memberikan manfaat lebih besar bagi dirinya, dan sesungguhnya pintu rezeki itu banyak, tidak sekedar dari penghasilan yang diperolehnya. Dan salah satu hal yang sering dilupakan
manusia bahwa keimanan adalah sebentuk rezeki. Bahkan boleh jadi rezeki keimanan ini memiliki nilai yang jauh lebih besar dari penghasilan yang diterimanya.

Kejadian yang menimpa Bapak Mul dan isterinya, di mana mereka selalu dirundung potensi percekcokan, memberikan pelajaran berharga bagi saya akan pentingnya pemahaman yang benar akan esensi kehidupan rumah tangga yang harus dilandasi oleh ruh ibadah dan kerja sama. Dengan ruh inilah bisa dirasakan bahwa penghasilan atau rezeki yang diperoleh oleh keluarga adalah hasil dari kerjasama, bukan semata kerja masing-masing individu belaka.

sumber: http://www.eramuslim.com/

Baca Selengkapnya..

Rejeki Bukan Matematika

oleh Abdul Rahman Jamil

Ayolah, kapan lagi mau menikah? Kamu kan sudah cukup umur, sudah bekerja pula dan secara agama hukumnya sudah menjadi wajib loh! Ngga usah takut ngga cukup. Rejeki itu tidak seperti hitungan matematika, serahkan saja semua kepada Allah. Begitu selalu yang dikatakan teman-teman saat saya selalu mempertimbangkan masalah keuangan sebagai salah satu alasan mengapa belum menikah.

Percakapan itu terjadi beberapa tahun lalu, saat saya gamang dalam keputusan untuk menikah atau tidak. Syukurnya, saya lebih memilih untuk melangkah maju dibanding mundur teratur untuk tidak membicarakan lagi masalah pernikahan.

Dan ternyata teori rejeki bukan matematika itu ternyata benar adanya. Mana pernah saya menduga sebelumnya, bahwa dengan berkeluarga justru keadaan ekonomi saya meningkat. Dibanding saat sendiri dulu keadaannya boleh dibilang sangat bertolak belakang.

Dengan gaji yang saya terima saat bujangan dulu, tanpa menanggung biaya kontrak rumah, makan cuma satu mulut dan tak ada tetek bengek biaya rumah tangga, toh tabungan saya tak pernah lebih dari enam digit.

Malah sebaliknya, justru saat saya harus menafkahi isteri dan anak-anak ternyata saya bisa mencukupi kebutuhan minimal mereka, sesekali berwisata dan masih ada sisa untuk ditabung untuk persiapan tak terduga. Dari mana semua itu? Secara logika, seharusnya keadaan ekonomi saya morat marit, karena toh gaji yang saya terima jumlahnya tidak terlalu berbeda jauh saat bujangan dulu.

Jawabannya adalah, semua karena kebesaran Allah dan kepasrahan kepada kehendak-Nya. Allah selalu memberikan rejeki yang tidak pernah saya duga–duga sebelumnya. Ada saja tawaran kerja sampingan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan semua itu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami dan bahkan bisa ditabung pula.

Maka semakin yakinlah saya akan kebenaran janji Allah dalam Al-Quran. "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar..(memudahkan jalannya untuk sukses)" Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS.65:2-3)

Nah, sekarang apalagi yang menjadi penghalang bagi muslimin untuk menikah, kalau Allah telah menjamin semuanya?

Brisbane, 13 April 2008
sumber: http://www.eramuslim.com/

Baca Selengkapnya..

Pasangan Hidup

02 Juli 2008

Penulis : Wahyu Annisa

Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab.

Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan, saya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan. Sejalan dengan berlalunya waktu, saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya," HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan.

"Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab,"Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan Adalah benar.

"Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?

"Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepadaMu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak...

"Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri didalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.

Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.

Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu.

kupersembahkan untuk: yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah, dan yang sedang mencari.

Baca Selengkapnya..

Pernikahan Tempat Bermuaranya Cinta

Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber darifitrah yang diciptakan Allah SWT di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya.

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir" (Ar-Rum: 21).

Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram. Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehidupan di kala suka dan duka, lapang dan sempit.

Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya. Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan. Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik.

Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia. Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia. Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga, dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya. Islam membersihkan dan mengarahkan perasaan cinta dan mengajarkan bahwa sebelum dilaksanakan akad nikah harus bersihdari persentuhan yang haram.

"Tidak terlihat diantara dua orang yang saling mencintai (sesuatu yang sangat menyenangkan) seperti pernikahan" (Sunan Ibnu Majah).

Pernikahan dalam islam merupakan sebuah kewajiban bagi yang mampu. Dan bagi insan manusia yang saling menyintai pernikahan seharusnyalah menjadi tujuan utama mereka. Karena itulah percintaan yang tidak mengarah kepada pernikahan bahkan disertai hal-hal yang diharamkan agama sangat tidak disarankan oleh islam.

Cinta dalam pandangan islam bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik, dan bukan pula pembenaran terhadap perilaku yang dilarang agama. Karena hal ini bukanlah cinta melainkan sebuah lompatan birahi yang besar saja yang akan segera pupus. Karena itu cinta memerlukan kematangan dan kedewasaan untuk membahagiakan pasangannya bukan menyengsarakannya dan bukan juga menjerumuskannya ke jurang maksiat.

Percintaan tanpa didasarkan oleh tujuan hendak menikah adalah sebuah perbuatan maksiat yang diharamkan oleh agama. Karena batas antara cinta dan nafsu birahi pada dua orang manusia yang saling menyintai sangatlah tipis sehingga pernikahan adalah sebuah obat yang sangat tepat untuk mengobatinya.

Pernikahan adalah sebuah perjanjian suci yang menjadikan Allah SWT sebagai pemersatunya. Dan tidak ada yang melebihi ikatan ini. Dan inilah puncak segala kenikmatan cinta itu dimana kedua orang yang saling menyinta itu memilih untuk hidup bersama dan saling berjanji untuk saling mengasihi dan berbagi hidup baik suka maupun duka.

sumber: sakinah

Baca Selengkapnya..

Perempuan Mandiri, Keluarga Berseri

01 Juli 2008

Ribuan kilo
Jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku, anakmu
Ibuku sayang, masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah penuh panah
(Iwan Fals)

Boleh jadi syair di atas adalah gambaran seorang Ibu Karmi, penjual kue kecil yang setiap hari harus berkeliling kampung menjajakan dagangannya.Suaminya, sudah tidak mampu bekerja karena sakit sejak 3 tahun lalu. Sementara masih ada 3 anak yang membutuhkan biaya sekolah dan tentu biaya hidup sehari-hari. Kadangkala, uang modal pun digunakan untuk membeli makanan, bila jualannya sedang sepi. Akibatnya, keesokan hari Ibu Karmi tidak bisa berjualan, karena modalnya tidak ada.

Kondisi seperti Ibu Karmi, sesungguhnya masih banyak terjadi di sekitar kita. Betapa banyak perempuan dhuafa yang membanting tulang dengan berbagai pekerjaan yang dilakukannya. Allah menciptakan laki-laki dengan sempurna, dilengkapi akal, fisik, dan hati agar dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Begitu pun perempuan, diberikan bekal yang sama.

Sayangnya, karena ilmu dan informasi yang terbatas, masih banyak perempuan yang belum paham tentang pentingnya sebuah pengembangan potensi dan pemberdayaan diri. Akibatnya, mayoritas perempuan dhuafa hanya menjadi pekerja buruh, serabutan, atau berdagang dengan pendapatan yang minim. Ditambah lagi, perempuan sangat rawan dan riskan terhadap hal-hal negatif yang ada di tempat kerja atau tempat usahanya. Sebut saja, pelecehan seksual, kekerasan pada perempuan, eksploitasi perempuan, atau penjualan anak dan perempuan.

Yang menjadi sumber masalah perempuan terletak pada terbatasnya kemampuan untuk hidup mandiri. Bila kondisi seorang suami atau bapak tidak bisa menafkahi keluarganya atau kurang mencukupi, seringkali istri atau anak perempuannya juga ikut serta bekerja. Menjadi buruh, pembantu rumah tangga, atau berdagang, biasanya menjadi pekerjaan yang dipilih kaum perempuan dalam rangka membantu perekonomian keluarga.

Bila hal tersebut berlanjut tanpa ada upaya perubahan, lingkaran kemiskinan akan terus berkembang. Maka, apa pun posisi kita, masalah kemiskinan ini harus menjadi tanggungjawab kita. Sebagaimana sebuah hadits menyebutkan, kemiskinan dapat mendekatkan seseorang pada kekufuran. Selain dengan mempertebal keyakinan kepada Allah, yang juga tidak kalah penting adalah mengiringinya dengan bekal keterampilan (life skill) sehingga bisa mandiri dan produktif.

Karena itu, sudah seharusnya ada program khusus atau pelatihan yang diikuti perempuan agar mampu mengeksplorasi potensinya. Lebih baik lagi, bila pelatihannya disertai pendampingan, pembinaan berkala hingga mereka dapat benar-benar mandiri. Tidak hanya dari sisi entrepreneurship (kewirausahaan), namun juga dari sisi ruhiyah (spiritual).

Sebenarnya, masalah perempuan tidak hanya menjadi tanggungjawab kaum hawa, tapi juga membutuhkan perhatian kaum Adam. Bahkan, Rasulullah SAW pun di akhir hayatnya berpesan bahwa kaum hawa atau muslimah itu harus dijaga dan diperhatikan. Artinya, siapa pun harus turut memelihara agar jangan ada perempuan yang tergelincir dalam kemorosotan moral.

Bentuk perhatiannya bisa sangat beragam. Bisa saja seorang suami memotivasi istrinya agar menyisihkan sekian persen dari anggaran rumah tangganya untuk zakat, infaq, atau shadaqah. Atau membantu menghimpun dana sosial dari rekan atau tetangganya yang berlebih, yang selanjutnya dimanfaatkan untuk kepentingan orang-orang dhuafa.

Andai setiap kita menyadari pentingnya pengembangan potensi kaum hawa dalam kedermawanan dan pemberdayaan dhuafa, insya Allah secara perlahan akan menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial seperti kemiskinan dan ketidakberdayaan kaum hawa dari bumi Indonesia.

penulis: Nurhayati
sumber: http://kotasantri.com/

Baca Selengkapnya..